Sabtu, 10 Mei 2008

Hanna Nafisah

Hanna Nafisah atau pemberian berharga adalah nama keponakan ku yang lahir di Bekasi Minggu 6 April 2008 kemarin. Imut. Namanya aja bayi. Nama itu saya anggap sebagai ungkapan syukur kedua orang tuanya yang tak lain adalah kakaku.

Anak adalah pemberian berharga bagi setiap umat manusia, jika mereka menyadarinya. Namun anak bisa juga menjadi fitnah jika amanh tersebut tidak dijaga. Sebagaimana bangsa ini yang telah dianugrahi kekayaan alam dan keindahannya yang tak ternilai, sehingga dikatakan “laksana cuilan surga yang jatuh ke bumi”, sungguh itu adalah anugrah yang sangat berharga, namun bisa juga menjadi bencana karena tidak kita jaga.

Entah kapan bencana itu akan berlalu. Mudah-mudahan itu adalah peringatan bagi kita bangsa Indonesia, bukan adzab atau ujian. Karena kalau adzab hal itu masih terlalu ringan dibanding dengan apa yang menimpa umatnya Nuh atau Luth. Kalau itu dikatakan ujian, aku takut bangsa ini akan semakin takabur. Jadi biarlah ia menjadi peringatan saja, agar kita menjaga pemberian yang berharga ini.

Senin, 05 Mei 2008

Maaf aku pergi

aku izin untuk pergi
walau aku sendiri tidak tahu mau pergi ke mana
yang jelas aku pergi
tapi bukan unutk menjauhimu
juga bukan untuk melupakanmu
aku pergi karena memang aku ingin pergi
itu aja.
Selanjutnya.........

Minggu, 04 Mei 2008

Malas

akhir-akhir ini aku malas untuk posting tulisan ke blog
yah, aku sedang malas
dan tidak tahu sampai kapan aku malas
lawan malas adalah rajin, bukan tidak malas
tapi malsa dan rajin sama-sama menguras tenaga
dan aku tidak memilih malas
hanya saja dia datang begitu saja

Kamis, 13 Maret 2008

Ke Puncak Lawu


Terobati sudah ingiku yang telah lama ku pendam
Mendaki hingga puncak gunung
Memandang alam ini dari atasnya

Sabtu delapan maret
Aku dan 20 orang temanku beranjak dari Jogja, Lawu tujuan kami
Adzan Magrib berkumndang ketika kami tiba di Tawang Mangu
Dan meneruskan perjalanan dengan naik L 300
Ke pos pendakian di Cemoro Sewo, Magetan, Jawa Timur

Pukul 08.30 kami melangkahkan kaki
Meninggalkan Pos dan memulai pendakian
Diselimuti kabut tipis, menapaki batu-batu
Bersenjata senter dan mantel yang melindungi kami dari air hujan
Canda tawa mengiringi perjalanan yang semakin lama semakin menanjak
Selanjutnya..................

Selasa, 26 Februari 2008

Rumahku bukan surgaku


Pagi masih terlalu dingin. Mobilku pun tak segera menyala ketika aku starter. Udara di kota ini memang cukup dingin. Bisa dikatakan, tempat ini adalah puncaknya kota ini. Aku juga tidak paham mengapa bapak memilih membangun rumah di sini, di bukit yang berjarak 30 kilometer dari pusat kota. Bisa jadi bapak salah perkiraan. Selanjutnya............

Minggu, 24 Februari 2008

Gunung Kidul

Selasa, 19 Februari 2008

Jogja Yang Asing

malam ini aku berjalan ke Nologaten
menjeguk teman
sudah cukup lama aku tidak jalan ke sana
ataupu puter-puter jogja kayak dulu

ada semboyan baru di jogja
mall besar sebagi simbol dunia barunya jogja
begitu kata iklannya
namun dari perjalanku malam ini
bukan hanya itu dunia baru jogja

ku dapatai sepanjang jalan Wahid Hasyim itu
di tempat yang semula menghijau di saat musim hujan
dan menguning saat padi menua
kini ia menguning di malam hari
oleh lampu-lampu hias nan remang
dari warung-warung makan dan kafetaria

aku tahu ini hanya sebagian
masih berjubel lagi yang lain di sudut-sudut kota ini
atau bahkan di gang-gang sempit

inilah dunia baru jogja
jogja yang asing dari dirinya sendiri